Dalam proses procurement perusahaan, pembelian barang atau jasa sebaiknya tidak dilakukan tanpa proses persetujuan yang jelas.
Salah satu dokumen penting dalam proses tersebut adalah Purchase Request (PR).
Purchase Request digunakan untuk mengajukan kebutuhan pembelian barang atau jasa kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan review dan approval.
Agar proses pembelian berjalan terkontrol, perusahaan membutuhkan Purchase Request Approval Workflow, yaitu alur yang mengatur bagaimana Purchase Request dibuat, diperiksa, disetujui, ditolak, atau dikembalikan untuk diperbaiki sebelum dilanjutkan ke tahap procurement berikutnya.
Dengan workflow yang terstruktur, perusahaan dapat mengurangi pembelian yang tidak terkontrol, meningkatkan visibility, memperjelas tanggung jawab, dan mempercepat proses approval.
Dengan menggunakan sistem procurement berbasis SaaS seperti Farinotech.id, proses Purchase Request dapat dikelola secara digital sehingga approval tidak harus bergantung pada dokumen kertas, spreadsheet, atau komunikasi manual.
Apa Itu Purchase Request Approval Workflow?
Purchase Request Approval Workflow adalah alur proses persetujuan Purchase Request sebelum kebutuhan pembelian dilanjutkan ke proses procurement berikutnya.
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai:
Request → Review → Approval → Procurement → Purchase Order
Namun, pada perusahaan yang memiliki struktur organisasi lebih kompleks, workflow dapat melibatkan beberapa level approval.
Contohnya:
Employee → Department Manager → Finance → Procurement Manager → Management
Setiap perusahaan dapat memiliki aturan approval yang berbeda berdasarkan:
- Nilai pembelian
- Departemen
- Jenis barang
- Budget
- Project
- Cost center
- Supplier
- Urgency
- Kewenangan approver
Apa Itu Purchase Request?
Sebelum memahami approval workflow, penting memahami pengertian Purchase Request.
Purchase Request adalah dokumen internal yang digunakan oleh karyawan atau departemen untuk mengajukan kebutuhan pembelian barang atau jasa kepada perusahaan.
Contoh kebutuhan:
- Laptop
- Software
- Office supplies
- Spare parts
- Raw materials
- Construction materials
- Professional services
- Maintenance services
- Equipment
Purchase Request belum tentu berarti barang sudah dibeli.
PR merupakan permintaan internal untuk melakukan pembelian.
Setelah PR mendapatkan persetujuan, departemen procurement dapat melanjutkan proses seperti:
Purchase Request → Supplier Selection → Quotation → Purchase Order
Untuk memahami perbedaannya, perusahaan juga perlu membedakan antara Purchase Request dan Purchase Order.
Purchase Request vs Purchase Order
Purchase RequestPurchase OrderPermintaan pembelian internalDokumen pemesanan kepada supplierDibuat oleh requesterUmumnya dibuat oleh procurementMembutuhkan approval internalDikirim kepada supplierBelum menjadi order ke supplierMenjadi dokumen pemesananDigunakan untuk mengajukan kebutuhanDigunakan untuk membeli barang/jasaContoh sederhana:
Seorang karyawan membutuhkan 10 laptop.
Karyawan membuat:
Purchase Request → Approval
Setelah disetujui, procurement mencari supplier dan membuat:
Purchase Order → Supplier
Dengan demikian, Purchase Request dan Purchase Order memiliki fungsi yang berbeda dalam procurement workflow.
Purchase Request vs Purchase Order: What Is the Difference?
Mengapa Purchase Request Approval Workflow Penting?
Approval workflow bukan sekadar formalitas administrasi.
Workflow yang baik membantu perusahaan mengendalikan pengeluaran dan memastikan pembelian sesuai kebutuhan bisnis.
1. Mengontrol Pengeluaran
Setiap pembelian dapat diperiksa sebelum dilakukan.
Management dapat memastikan bahwa pembelian:
- Memang diperlukan
- Sesuai budget
- Sesuai kebijakan perusahaan
- Memiliki alasan yang jelas
2. Mencegah Unauthorized Purchasing
Tanpa approval, karyawan dapat melakukan pembelian tanpa koordinasi dengan management.
Approval workflow memberikan batas kewenangan yang jelas.
3. Meningkatkan Accountability
Setiap aktivitas memiliki pihak yang bertanggung jawab.
Contohnya:
Requester → Manager → Finance → Procurement
Dengan demikian perusahaan dapat mengetahui siapa yang mengajukan dan siapa yang memberikan persetujuan.
4. Mempercepat Proses Approval
Workflow digital memungkinkan approver menerima informasi secara lebih cepat.
Daripada menggunakan:
- Form kertas
- Email manual
- Spreadsheet
- Chat pribadi
approval dapat dilakukan melalui sistem.
5. Meningkatkan Transparansi
Requester dapat mengetahui status PR.
Misalnya:
Draft → Submitted → Pending Approval → Approved → Procurement → Completed
Status tersebut membuat proses procurement lebih mudah dipantau.
Purchase Request Approval Workflow yang Ideal
Workflow dapat berbeda berdasarkan struktur perusahaan.
Namun, salah satu contoh workflow yang umum adalah:
Step 1 — Create Purchase Request
Requester memasukkan kebutuhan pembelian.
Informasi dapat mencakup:
- Item
- Quantity
- Estimated price
- Required date
- Department
- Project
- Reason
- Attachment
Step 2 — Submit Purchase Request
Setelah data lengkap, requester melakukan submit.
Status berubah menjadi:
Submitted
PR kemudian masuk ke approval workflow.
Step 3 — Department Approval
Manager departemen memeriksa:
- Apakah barang diperlukan?
- Apakah quantity masuk akal?
- Apakah kebutuhan sesuai aktivitas departemen?
- Apakah budget tersedia?
Manager kemudian dapat:
Approve / Reject / Return
Step 4 — Finance Review
Untuk perusahaan yang menerapkan financial control, Finance dapat melakukan pengecekan.
Finance dapat memeriksa:
- Budget
- Cost center
- Project budget
- Estimated cost
- Spending policy
Jika sesuai, Finance melakukan approval.
Step 5 — Procurement Review
Setelah approval internal selesai, PR masuk ke Procurement.
Procurement memeriksa:
- Specification
- Quantity
- Supplier
- Estimated price
- Existing contract
- Supplier availability
Procurement kemudian dapat melanjutkan proses sourcing.
Step 6 — Supplier Quotation
Procurement dapat meminta quotation dari supplier.
Alurnya dapat menjadi:
Purchase Request → Supplier Quotation → Evaluation → Supplier Selection
Step 7 — Create Purchase Order
Setelah supplier dipilih, procurement dapat membuat Purchase Order.
Alur:
Approved PR → Purchase Order → Supplier
Step 8 — Delivery
Supplier mengirimkan barang atau jasa.
Dokumen penerimaan dapat dicatat melalui Delivery Note / Goods Receipt sesuai workflow perusahaan.
Step 9 — Invoice
Setelah barang atau jasa diterima, supplier mengirimkan invoice.
Invoice kemudian dapat diproses oleh Finance.
Step 10 — Payment
Setelah verifikasi selesai, perusahaan melakukan pembayaran sesuai terms yang telah disepakati.
Contoh Purchase Request Approval Workflow
Contoh sederhana:
Employee
↓
Create Purchase Request
↓
Submit PR
↓
Department Manager
↓
Finance Approval
↓
Procurement Review
↓
Supplier Quotation
↓
Purchase Order
↓
Delivery
↓
Invoice
↓
Payment
Workflow ini dapat disesuaikan dengan struktur dan kebijakan masing-masing perusahaan.
Contoh Approval Berdasarkan Nilai Pembelian
Perusahaan dapat membuat approval berdasarkan nominal.
Contoh:
Nilai Purchase RequestApproval< Rp5 jutaDepartment ManagerRp5–50 jutaDepartment Manager + FinanceRp50–250 jutaManager + Finance + Procurement Manager> Rp250 jutaManagement / DirectorContoh di atas hanya ilustrasi. Perusahaan dapat menentukan threshold sesuai kebijakan internal.
Approval Workflow Berdasarkan Departemen
Workflow juga dapat dibedakan berdasarkan departemen.
Contoh:
IT
Requester → IT Manager → Finance → Procurement
Marketing
Requester → Marketing Manager → Finance → Procurement
Engineering
Engineer → Project Manager → Procurement → Finance
Dengan workflow berbasis departemen, approval dapat diarahkan kepada pihak yang tepat.
Approval Workflow Berdasarkan Project
Untuk perusahaan yang mengelola banyak proyek, Purchase Request dapat dikaitkan dengan project.
Contoh:
Project A
PR → Project Manager → Finance → Procurement
Project B
PR → Project Manager → Finance → Procurement
Data tersebut membantu perusahaan mengetahui pembelian dilakukan untuk project mana.
Approval Workflow Berdasarkan Budget
Budget control merupakan bagian penting dalam procurement.
Contohnya:
Requested Amount: Rp100.000.000
Available Budget: Rp80.000.000
Sistem dapat memberikan informasi bahwa jumlah yang diminta melebihi budget.
Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan:
- Review
- Adjustment
- Reject
- Request additional budget
Status Purchase Request yang Umum
Sistem Purchase Request biasanya menggunakan beberapa status.
Draft
PR masih dalam proses pembuatan.
Submitted
PR sudah dikirim untuk approval.
Pending Approval
PR menunggu tindakan approver.
Approved
PR telah mendapatkan approval.
Rejected
PR ditolak.
Returned
PR dikembalikan untuk diperbaiki.
In Procurement
PR sedang diproses oleh Procurement.
Converted to PO
PR telah digunakan untuk membuat Purchase Order.
Completed
Proses pembelian telah selesai.
Status dapat disesuaikan dengan workflow perusahaan.
Apa yang Terjadi Jika Purchase Request Ditolak?
Jika approver menolak PR, sebaiknya sistem menyimpan:
- Nama approver
- Tanggal approval
- Status
- Alasan penolakan
- Catatan
Contoh:
Status: Rejected
Reason: Budget department tidak tersedia untuk periode berjalan.
Informasi ini penting untuk audit trail.
Apa yang Terjadi Jika Purchase Request Dikembalikan?
Tidak semua PR yang bermasalah harus langsung ditolak.
Approver dapat memilih:
Return for Revision
Contohnya:
Specification laptop belum lengkap. Silakan tambahkan processor, RAM, storage, dan operating system.
Requester kemudian memperbaiki PR dan mengirimkannya kembali.
Workflow ini lebih efisien dibanding membuat PR baru.
Approval Delegation
Dalam perusahaan, approver terkadang tidak tersedia.
Contohnya:
- Cuti
- Business trip
- Meeting
- Sakit
- Tidak berada di kantor
Sistem dapat menyediakan approval delegation sesuai kebijakan perusahaan.
Contoh:
Manager A → Delegate → Manager B
Selama periode tertentu, Manager B dapat menangani approval yang didelegasikan.
Approval SLA
Perusahaan juga dapat menentukan SLA approval.
Contoh:
Department Manager: maksimal 1 hari kerja
Finance: maksimal 1 hari kerja
Procurement: maksimal 2 hari kerja
Jika approval melewati SLA, sistem dapat memberikan reminder kepada approver.
Hal ini membantu mengurangi bottleneck procurement.
Automatic Approval Notification
Sistem digital dapat mengirimkan notifikasi ketika:
- PR baru membutuhkan approval
- PR disetujui
- PR ditolak
- PR dikembalikan
- PR melewati SLA
- PR dikonversi menjadi PO
Notifikasi membuat requester dan approver tidak perlu terus-menerus mengecek spreadsheet.
Audit Trail dalam Purchase Request Approval
Audit trail merupakan salah satu fitur penting dalam procurement system.
Informasi yang dapat dicatat:
DateUserActionStatus2 SepUser ACreatedDraft2 SepUser ASubmittedPending Approval2 SepManager AApprovedApproved3 SepFinanceApprovedApproved3 SepProcurementConvertedPODengan audit trail, perusahaan dapat mengetahui sejarah lengkap sebuah Purchase Request.
Purchase Request Approval Workflow dengan Farinotech SaaS
Dengan sistem SaaS seperti Farinotech.id, perusahaan dapat mengembangkan proses procurement menjadi lebih terstruktur.
Contoh workflow:
Requester
↓
Purchase Request
↓
Approval Workflow
↓
Department Approval
↓
Finance Approval
↓
Procurement
↓
Quotation
↓
Purchase Order
↓
Delivery
↓
Invoice
↓
Payment
Keuntungan pendekatan terintegrasi adalah data dari satu proses dapat digunakan pada proses berikutnya tanpa harus memasukkan data berulang kali.
Manfaat Digital Purchase Request Approval
Mengurangi Paperwork
Seluruh proses dapat dilakukan secara digital.
Mempercepat Approval
Approver dapat melihat PR yang menunggu tindakan.
Mengurangi Human Error
Data yang telah dimasukkan dapat digunakan kembali pada proses procurement berikutnya.
Meningkatkan Visibility
Management dapat mengetahui jumlah PR:
- Pending
- Approved
- Rejected
- In Procurement
- Completed
Mempermudah Audit
History approval dapat disimpan secara terstruktur.
Best Practice Purchase Request Approval Workflow
Untuk membuat workflow yang efektif, perusahaan sebaiknya menerapkan beberapa prinsip.
1. Tentukan Approval Matrix
Tentukan siapa yang dapat melakukan approval berdasarkan:
- Nominal
- Department
- Project
- Cost center
- Purchase category
2. Hindari Terlalu Banyak Approval
Terlalu banyak approval dapat memperlambat procurement.
Gunakan hanya approval yang benar-benar diperlukan.
3. Tetapkan Approval SLA
Tentukan batas waktu setiap level approval.
4. Gunakan Approval Notification
Approver harus mendapatkan informasi ketika ada PR baru.
5. Simpan Audit Trail
Setiap approval dan perubahan harus tercatat.
6. Gunakan Role-Based Access
Tidak semua user harus dapat melakukan approval.
Contohnya:
Requester: Create PR
Manager: Approve PR
Finance: Budget Review
Procurement: Process PR
Director: High-value Approval
7. Integrasikan dengan Purchase Order
PR yang telah approved sebaiknya dapat digunakan sebagai dasar pembuatan PO.
Hal ini mengurangi pekerjaan input ulang.
Kesalahan Umum dalam Purchase Request Approval
Approval melalui Chat Saja
Approval melalui chat sulit ditelusuri dan kurang ideal untuk audit.
Tidak Ada Approval Matrix
Jika tidak ada aturan yang jelas, approval dapat menjadi subjektif.
Tidak Ada SLA
PR dapat tertahan terlalu lama.
Tidak Ada Reason untuk Rejection
Requester tidak mengetahui alasan PR ditolak.
Data Tidak Terintegrasi
Requester harus memasukkan data yang sama berulang kali.
Tidak Ada Audit Trail
Perusahaan kesulitan mengetahui siapa yang melakukan perubahan atau approval.
FAQ Purchase Request Approval Workflow
Apa itu Purchase Request Approval Workflow?
Purchase Request Approval Workflow adalah alur persetujuan Purchase Request sebelum permintaan pembelian dilanjutkan ke proses procurement.
Siapa yang melakukan approval Purchase Request?
Tergantung kebijakan perusahaan. Approver dapat berupa Department Manager, Finance, Procurement Manager, Management, atau Director.
Apakah Purchase Request sama dengan Purchase Order?
Tidak. Purchase Request merupakan permintaan pembelian internal, sedangkan Purchase Order merupakan dokumen pemesanan kepada supplier.
Mengapa Purchase Request membutuhkan approval?
Approval membantu memastikan pembelian sesuai kebutuhan, budget, kebijakan, dan kewenangan perusahaan.
Apa yang terjadi jika Purchase Request ditolak?
PR dapat berstatus rejected dan sebaiknya disertai alasan penolakan agar requester mengetahui tindakan berikutnya.
Apa bedanya Reject dan Return?
Reject berarti permintaan tidak disetujui. Return berarti PR dikembalikan kepada requester untuk diperbaiki atau dilengkapi.
Apakah approval dapat dilakukan berdasarkan nominal?
Ya. Perusahaan dapat membuat approval matrix berdasarkan nilai pembelian.
Apakah Purchase Request dapat dihubungkan dengan Project?
Ya. Purchase Request dapat dikaitkan dengan project, department, cost center, atau budget tertentu sesuai kebutuhan sistem.
Apakah Purchase Request dapat dikonversi menjadi Purchase Order?
Dalam workflow procurement digital, approved Purchase Request dapat digunakan sebagai dasar pembuatan Purchase Order.
Apa manfaat Purchase Request Approval secara digital?
Digital approval membantu mempercepat proses, meningkatkan transparansi, mengurangi pekerjaan manual, dan menyediakan audit trail.
Kesimpulan
Purchase Request Approval Workflow merupakan bagian penting dari procurement management karena mengatur bagaimana permintaan pembelian diperiksa dan disetujui sebelum perusahaan melakukan pembelian.
Workflow yang terstruktur dapat membantu perusahaan:
- Mengontrol pengeluaran
- Memastikan pembelian sesuai budget
- Meningkatkan accountability
- Mempercepat approval
- Mengurangi pekerjaan manual
- Meningkatkan transparansi
- Mempermudah audit
- Mengurangi risiko unauthorized purchasing
Workflow ideal dapat menggunakan alur:
Purchase Request → Approval → Procurement → Quotation → Purchase Order → Delivery → Invoice → Payment
Dengan Farinotech SaaS, proses tersebut dapat dikembangkan menjadi workflow procurement digital yang lebih terintegrasi dan mudah dipantau.


